Ketahuilah Fakta Sejarah Mengenai Pohon Cemara Natal

Ketahuilah Fakta Sejarah Mengenai Pohon Cemara Natal – Seperti yang kita semua ketahui bahwa saat ini sudah semakin banyak orang yang senang jika melihat pohon natal. Bulan Desember adalah bulan yang identik dengan perayaan Natal bagi penganut agama Kristen di seluruh dunia. Biasanya, dalam perayaan Natal ada beberapa simbol atau ornamen yang selalu melekat dan seolah menjadi sebuah keharusan dalam perayaan Natal. Dua hal yang selalu melekat dengan perayaan Natal adalah pohon cemara bersalju dan Sinterklas.

Ketahuilah Fakta Sejarah Mengenai Pohon Cemara Natal

Pohon cemara memiliki makna khusus bagi orang-orang Eropa
Ada sebuah pertanyaan sederhana yang bahkan belum tentu bisa dijawab oleh orang-orang yang merayakan Natal itu sendiri, mengapa pohon NatalĀ franquiciasdoncurado identik dengan cemara? Yup, pertanyaan sederhana namun membutuhkan jawaban yang panjang akan sejarahnya. Faktanya, bagi orang-orang Eropa, Amerika, Kanada, dan bahkan penduduk yang tinggal di wilayah Arktika yang selalu dingin, pohon cemara memang memiliki tempat yang spesial.

Dicatat dalam laman History, cemara adalah salah satu pohon yang bisa bertahan hidup sepanjang tahun, termasuk dalam cuaca ekstrem yang membeku. Hal ini membuat pohon cemara dijadikan makna damai secara simbolis bagi kebanyakan orang Eropa, bahkan sebelum agama Kristen ada.

Oh ya, secara ilmiah pohon cemara memang merupakan salah satu spesies tanaman yang sangat tahan terhadap suhu dingin. Studi ilmiah berjudul Cold Tolerance in Cypress: A Physiological and Molecular Study yang diterbitkan pada 2011 mengungkap bahwa tanaman cemara sanggup bertahan hidup dengan baik pada suhu minus 15 hingga minus 30 derajat celcius.

Nah, setelah agama Kristen masuk ke tanah Eropa secara masif, penggunaan pohon cemara diperluas untuk mempercantik perayaan Natal yang identik dengan salju dan cuaca dingin. Pada awalnya, beberapa warga Eropa kuno memberikan hiasan sekadarnya pada pohon-pohon hijau yang ada di pekarangan rumahnya pada saat musim dingin tiba.

Hal ini berlanjut hingga abad pertengahan, di mana Natal menjadi perayaan paling besar di tanah Eropa kala itu. Di zaman tersebut, banyak warga Eropa yang masih sangat kolot dan minim ilmu pengetahuan. Bagi mereka, penggunaan pohon cemara di musim dingin – selain untuk mempercantik perayaan Natal – juga dipercaya bisa menangkal roh jahat.

 

Selain air, tanaman hijau seperti cemara juga dianggap sebagai sumber kehidupan
Ada beberapa pendapat yang mengaitkan pohon Natal dan tanaman hijau lainnya dengan hal-hal yang berbau mistis atau takhayul yang pernah ada di zaman kuno. Salah satunya adalah anggapan bahwa tanaman hijau merupakan salah satu sumber kehidupan dan keberuntungan. Faktanya, secara ilmiah memang tanaman adalah organisme yang menghasilkan unsur-unsur kehidupan seperti sumber oksigen dan pangan.

Namun, jika dikaitkan dengan kekuatan mistis atau apapun yang berkaitan dengan takhayul, tentu hal tersebut sudah menjadi salah kaprah bagi sains. Terlepas dari itu semua, nyatanya orang-orang zaman dulu memang sangat percaya dengan keberuntungan jika dikaitkan dengan keberadaan tanaman hijau, dilansir dalam laman History.

Tanaman hijau erat kaitannya dengan tradisi atau ritual kuno. Bangsa Romawi kuno, misalnya, yang mengaitkan tanaman hijau (cemara dan pohon lainnya) dengan keberuntungan yang berhubungan dengan dewa pertanian, yakni Saturnus. Begitu pula bangsa Mesir kuno, yang percaya bahwa tanaman palem hijau merupakan simbol kemenangan hidup atas kematian.

Namun, pada saat agama Kristen masuk ke tanah Eropa, kepercayaan rakyat tersebut dihapuskan dan tanaman hijau (termasuk cemara) diubah peruntukannya sebatas pada dekorasi untuk mempercantik lingkungan pada saat Natal tiba. Pada prinsipnya, pohon cemara dijadikan ornamen Natal hanya sebatas pada makna damai secara simbolis. Dan lagi, cemara adalah pohon kuat yang banyak tumbuh di Eropa, Amerika, dan Kanada.

Kalangan ilmuwan dan pakar sejarah menyimpulkan bahwa tradisi penggunaan pohon Natal sebetulnya tidak berkaitan dengan kepercayaan kuno di masa lalu. Namun, di zaman kuno memang ada kepercayaan atau tradisi rakyat yang menempatkan tanaman berdaun hijau sebagai pedoman keberuntungan mereka.